Sebuah Jawaban

Aku menenteng tasku ke sebuah ruangan. Dengan perlahan, kuketuk pintu.

Tok! Tok!

Seorang perempuan sekelasku membuka pintu. Ia terkejut mendapatiku berada di depan kelas kelompok belajar sekolah. Ia menatapku dengan tatapan sinis.

“Mau ngapain kamu?” aku menunduk. “Anak bodoh seperti kamu tidak pantas masuk kelas ini.” Kata Sally, teman sekelasku, menutup pintu. Tetap menundukkan kepala, aku membelalakkan mata. Perlahan, aku merasa air mataku jatuh ke pipiku. Aku berjalan lesu meninggalkan ruangan.

Belum jauh dari situ, seseorang memanggilku.

“Hei! Anak kelas 8! Sini!” kakak kelas bertubuh jangkung itu memanggilku. Aku berjalan sambil terus menunduk. “Kamu yang SMS mau ikut kelas kelompok belajar sekolah, kan?” aku mengangguk pelan. kakak itu mengulurkan tangan.

“Namaku Rafli. Aku adalah ketua kelas kelompok belajar sekolah. Maaf karena anggotaku tadi telah mengusirmu.” Aku menyambut tangannya perlahan. Kemudian ia mengajakku masuk ke dalam kelas itu.

Aku menyapu pandangan ke seluruh ruangan ini. Ruangan ini betul-betul membuat ku semangat untuk belajar. Warna dinding yang hijau membuat kesegaranku pulih kembali. Namun, aku merasa ada sesuatu hal yang janggal.

“Oke. Kita akan lanjutkan pelajaran. Diana. Sekarang kita sedang belajar IPA hal 42.” Kak Rafli begitu baik kepadaku. Namun, berbeda dengan Kak Rafli. Anak-anak lain begitu sinis menatapku. Aku yang ditempatkan di depan meja kakak pembina, menjadi tidak enak hati.

ooOoo

“Sekarang, kita akan break sebentar. Jam 13.00 kita masuk lagi.” Kata Kak Rafli merapikan buku-buku di mejanya. Aku cukup menikmati pelajaran ini. Mungkin karena cara mengajar Kak Rafli yang enak.

Kumasukkan bukuku ke dalam tas lalu berjalan santai menuju kantin sekolah. Sengaja aku tidak membawa tas. Aku hanya membawa sisa bekalku tadi.

Sampai di kantin, aku melihat Kak Rafli dan teman-temannya mengajakku untuk bergabung bersama mereka. Senang hatiku mendengarnya. Tentu saja aku mengiyakan.

Selain Kak Rafli, ada dua orang lagi yang ku kenal. Kak Farel dan Kak Ita. Mereka juga anggota kelas kelompok belajar. Tapi sudah senior seperti Kak Rafli. Mereka tersenyum padaku.

“Mau pesan apa?” Kak Farel menawarkan. Aku memperlihatkan kotak makanku. Mereka kembali tersenyum. Kemudian Kak Farel mengangkat tangan. “Bu Kantin, Jus Mangganya satu!” Kak Farel mengalihkan pandangannya ke arahku. “Suka Jus Mangga kan?” aku mengangguk.

“Terima Kasih.” Aku tersenyum. Kak Ita menyubit pipiku.

“Kamu lucu sekali.” Aku semakin tersenyum. Bahagia sekali bisa berada di tengah-tengah orang yang sangat baik. Namun, di tengah kebahagiaan dan kepedulian kakak-kakak kelas ini, ada juga yang menatapku sinis.

“Awas saja kamu, Diana.” Cetus Sally diikuti senyuman sinis gengnya diujung kantin. Aku bergidik melihatnya.

ooOoo

“Assalamu `alaikum, Bu.” Aku mengetuk pintu. Tali sepatu mulai kubuka perlahan. Wajahku tersenyum setiap saat.

5 menit berlalu. Tetapi, tidak ada tanda-tanda pintu akan di buka. Aku mulai gusar. Aku mengambil hp-ku. Ku tekan panggilan kepada ibu. Tapi tidak ada jawaban juga. Saat aku hendak memasukkan hp-ku, terdengar suara ibu dari kejauhan.

“Diana!” aku menoleh. Ibu terlihat tergopoh-gopoh membawa dua keranjang di kedua tangannya. Aku menaruh tasku dan berlari membantu ibu.

“Ibu dari mana? Kenapa tidak bisa ditelepon? Dinda mana?” Aku memberikan tiga pertanyaan sekaligus. Ibu tersenyum.

“Nanti Ibu cerita di rumah. Sekarang bantu Ibu bawa kue-kue ini ke rumah.” Aku mengambil sebuah keranjang dan menggandeng tangan ibu ke dalam rumah.

Aku dan ibu menaruh dua keranjang itu di atas meja. Ibu duduk di sofa.

“Ayo. Ibu cerita, dong.” Diana duduk di kursi sebelah ibu. Ibu tersenyum lagi.

“Tadi Ibu ketemu kepala sekolah Diana. Kepala sekolah melihat Ibu membawa kue-kue ini. Beliau tanya-tanya tentang kue ini. Kemudian kepala sekolah mencicipi kue ibu. Ternyata beliau suka dan menawarkan agar kue-kue buatan Ibu dijual di kantin sekolah.” Kata ibu bercerita sambil terus tersenyum.

“Oh.. Gitu, ya, bu. Jadi, mulai besok Ibu jualan di kantin?” Aku menyomot kue bolu dari keranjang ibu. Ibu menggeleng.

“Bukan Ibu. Tapi kamu.” Aku diam. Kemudian menunjuk diriku sendiri.

“Diana?” Ibu mengangguk. Aku menggeleng. “Jangan, deh, bu. Diana ada kelas tambahan setiap hari.” Aku menaruh bungkus bolu di atas meja. Ibu menghela nafas.

“Bukan gitu juga.” Ibu mengambil bungkus bolu yang ku taruh di meja tadi.

“Jadi?” Aku menaikkan sebelah alisku. Ibu tersenyum.

“Kamu hanya mengantar dan mengambilkan dagangan saja. Setiap pagi, kamu menitipkan kue-kue ini ke Ibu kantin. Nah, pulangnya baru kamu ambil.” Aku mengangguk-angguk.

“Oh.. Gitu, ya..” aku dan ibu tersenyum.

 

Bersambung..

[Fathimah NJL, Santriwati angkatan ke-1 Jenjang SMP, Pesantren Media]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s