Harian Dadakan; Idul Adha yang Sepi

Hari ini hari Kamis, 24 September 2015. Hari ini bukan hari biasa. Seluruh dunia juga mengetahui itu. Ketika sebagian kaum Muslimin tengah menjalankan ibadah haji di pusat peradaban Islam, kaum muslimin yang lain melakukan Sholat Idul Adha dan memotong hewan kurban.

Pagi-pagi sekali, aku sudah bangun. Ketika kulihat jam, ternyata sekarang masih pukul 3 pagi. Di kamarku, masih ada temanku dan adikku. Aku langsung melipat selimut dan pergi ke kamar mandi. Brr.. Airnya dingin sekali. Aku hanya mengambil air wudhu dan sikat gigi saja. Kalau mandi, bisa-bisa aku menggigil dan mati rasa.

Setelah mengambil wudhu, aku pergi sholat Tahajjud. Aku teringat dulu saat masih SMP. Aku jarang sekali sholat malam. Sekarang, setelah peraturan asrama diperketat, aku membiasakan diri untuk bangun lebih pagi dan Sholat Tahajjud.

Setelah sholat, aku mengukur suhu air lagi menggunakan tanganku. Masih dingin. Aku belum berani mandi. Umi sudah bangun. Umi memasak makanan untuk sarapan setelah Shola Ied nanti. Kata Umi, kami akan makan dengan ketupat, opor, dan sayur ketupat. Hmm.., memikirkannya saja sudah membuatku lapar. Karena menurutku, bukan hari raya kalau tidak makan ketupat dan opor. Walaupun itu hanya pemikiranku saja, hehe..

Aku menyiapkan hal-hal yang dipersiapkan untuk Sholat Idul Adha. Bagiku, Idul Adha merupakan hal yang penting dan menyenangkan. Dua hari raya dalam islam adalah dua hari yang sangat kutunggu kedatangannya. Karenanya, aku berusaha sebisa mungkin untuk menyiapkan yang terbaik.

Akhirnya, Adzan Shubuh berkumandang. Kak Nissa sudah ada di kamarku untuk mengajak Sholat Shubuh berjamaah. Aku sudah siap. Kami Sholat berjamaah berlima. Kak Ela, Kak Nisa, aku, Alifa, dan Daffa. Setelah sholat berjamaah kami membaca Al-Maktsurat seperti biasa. Hanya saja, dzikir pagi ini terasa sepi sekali. Karena santri yang tersisa di asrama tinggal kami berlima.

Selesai dzikir, aku berencana mandi. Jadi aku keluar kamar untuk mengambil handuk dan peralatan mandi. Ketika kulihat ke luar, ternyata langitnya sudah terang untuk ukuran waktu shubuh. Orng-orang di lapangan juga sudah mulai bertakbir. Mendengar itu, aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi. Air memang masih terasa dingin. Tetapi aku tidk akan menyerah hanya karena takut kedinginan. Lagi pula, kalau banyak bergerak tidak akan terasa dinginnya.

Aku sudah menyiapkan baju yang spesial untuk hari ini. Stelan ini hanya akan kupakai ketika Sholat Ied saja. Jilbab hitam dengan blazer biru tua dan kerudung biru muda. Aku melihat adik perempuanku, Maryam, juga sudah siap. Ia memakai baju merah muda dengan kerudung putih. Maryam terlihat cantik sekali. Aku, Maryam, dan Umi sudah siap. Kami berangkat pukul setengah tujuh kurang.

Sholat Ied dilakukan di Lapangan Komplek Laladon Permai. Saat kami datang, lapangan telah ramai oleh orang-orang yang siap melaksanakan Sholat. Di barisan akhwat, ibu-ibu, remaja, dan anak-anak telah memakai mukena mereka. Aku masuk ke area lapangan bersama sahabat lamaku, Husnia. Kami bertemu di jalan tadi.

Setelah menemukan tempat dan duduk, aku memakai mukenaku dan ikut bertakbir. Ketika bertakbir, aku melihat ke kanan dan kiriku. Di sebelah kananku ada Umi dan Maryam. Di sebelah kiriku ada tetangga seberang perempatan. Tiba-tiba aku teringat teman-temanku. Tiga tahun yang lalu, berturut-turut aku melaksanakan Sholat Idul Adha bersama teman-teman SMP. Sekarang, mereka sudah ada di berbagai tempat lain di Indonesia. Mengingat memori-memori SMP membutku bersedih. Tetapi aku tidak boleh bersedih di hari yang berbahagia ini.

myhome2 myhome3Aku dan kaum muslim yang lain sholat berjamaah di lapangan. Setelah mengumumkan tentang hewan kurban, akhirnya Sholat Ied dimulai. Imam Sholat Ied kali ini adalah Ustadz Rahmat. Aku rasa, suara Ustadz Rahmat kecil sekali. Hampir tidak terdengar. Tetapi aku mencoba tetap fokus. Selesai sholat, ternyata tetangga-tetangga sebelahku juga membicarakan hal yang sama.

Seperti seharusnya, setelah Sholat Ied dilanjut dengan khutbah. Aku tidak tahu siapa yang berkhutbah. Khutbah Ied yang sangat menegangkan. Khotib menjelaskan tentang keterbelakangan kondisi umat islam di Negara islam saat ini. Tentang ajakan kembali kepada Syariah dan Khilafah. Mendengarnya, aku sedikit merinding.

Selesai khutbah, aku dan umi bersalam-salaman dengan tetangga-tetangga. Lalu kami pulang melalui jalan yang berbeda. Dan akhirnya kembali sampai ke rumah.

Di teras sudah ada ikhwan. Aku masuk ke rumah melalui kamarku. Rumah terasa sepi sekali. Dalam hati aku bersedih. Kenapa sepi sekali? Aku menyimpan mukena dan mengganti baju dengan jilbab sehari-hari. Kemudian sarapan dengan ketupat dan opor ayam. Aku makan bersama teman-teman yang tersisa di asrama. Lalu aku teringat lagi dengan teman-temanku di SMP. Sedih sekali hari ini. Batinku dalam hati.

Yah. Sepertinya hanya itu ceritaku hari ini. Karena selanjutnya, sudah seperti biasanya saja. Aku menjaga Maryam ketika umi membantu ibu-ibu menyiapkan daging kurban, bersepeda untuk membeli makan siang karena umi tidak bisa membuatkan makan siang, dan kegiatan-kegiatan harian lainnya. Maka dari itu, aku membuat tulisan ini dengan judul “Idul Adha yang Sepi”. Karena aku sedikit merasakan kesepian di hari ini. Pada hari yang selalu kutunggu kehadirannya dan selalu kupersiapkan yang terbaik untuk hari ini, aku kesepian dan sedih.

Kamis, 24 September 2015

[Fathimah NJL, Kelas 1 SMA, Santriwati Angkatan ke-5 Jenjang SMA, Pesantren Media]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s