Diary ; Mengenang Empat Hari (Bag 1)

Hari ini hari Kamis. Tanggal 17 Desember 2015. Sampai empat hari yang lalu, aku mengalami hari yang cukup panjang dan melelahkan. Namun bila kuingat lagi sekarang, empat hari yang panjang itu terasa sangat singkat sekarang. Kini aku ada di rumah orang tua umiku di Magelang. Perjalanan ini dimulai empat hari yang lalu pada pagi hari sebelum Shubuh.

Senin, 14 Desember 2015

Aku sudah bangun pagi-pagi sekali. tetapi aku tidak langsung bangun karena perutku sedikit sakit. Setelah merasa tidak terlalu sakit, aku memaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi dan melakukan semua keperluanku di dalam sana. Seperti hari-hari lain, aku bersegera mengambil mukenaku dan melaksanakan Sholat Tahajjud di ruang depan. Teman-teman sekamarku sudah kubangunkan sekali. tetapi aku tidak memaksa untuk bangun. Karena keduanya sedang tidak sholat dan seorangnya masih belum bisa membuka mata.

Setelah Sholat, aku membuka buku catatan Bahasa Inggrisku. Karena hari ini akan ada ujian Bahasa Inggris dan Desain Grafis. Aku sudah lama absen pelajaran Desain. Karenanya aku tidak tahu apa yang harus kupelajari untuk ujian. Jadi aku mempersiapkannya dengan mengisi dengan full baterai laptopku. Menjelang Shubuh, umi memberitahuku bahwa rencananya kami akan pergi ke Magelang siang ini.

Sehari sebelumnya, umi memang akan berangkat ke Magelang bersama kakak laki-laki dan adik perempuan umi karena ibu umi sakit dan masuk ke rumah sakit. Tetapi umi membatalkannya karena adikku Maryam menangis ketika umi akan berangkat. Tetapi hari ini umi akan berangkat bersama aku dan kedua adik terkecilku menggunakan bus antar provinsi. Umi menyuruhku untuk menyiapkan barang-barangku. Aku langsung mengosongkan tasku dan mengisinya dengan pakaian untuk dua kali ganti.

Aku pergi ke Masjid untuk pelajaran Tahfizh. Aku menghafal surat Al-Hadid sampai jam 6 pagi. Kemudian pulang dan melaksanakan aktivitas pesantren seperti biasa. Jam 9 pagi aku berangkat ke Rumah Media bersama adik kelasku untuk ujian Desain. Tetapi ustadz yang mengajar tidak datang-datang. Sehingga kami kembali ke asrama. Akhirnya kami mengisi waktu ujian dengan ustadz yang lain di Masjid. Kami mengerjakan soal Desain yang teori. Aku sama sekali tidak paham dengan pertanyaannya.

Aku kembali ke rumah sekitar jam setengah 12. Aku kembali membereskan barangku untuk dibawa pergi. Aku sudah tahu aku akan pergi menjenguk nenekku. Kata umi, bus kami akan berangkat sekitar jam setengah 1 siang. Kami akan di antar ke terminal Bubulak oleh Teh Yuni.

Perjalanan Menuju Magelang

Sampai di terminal Bubulak, kami menunggu. Bus yang akan kami naiki adalah bus Safari Dharma Raya atau OBL. Akhirnya bus datang jam setengah 1 lewat. Umi telah memesan 4 kursi untuk kami. Kursi nomor 21, 22, 23, dan 24. Aku duduk bersama adikku Muhammad dan umi bersama Maryam. Kata umi Maryam harus duduk di kursinya sendiri. Maryam anaknya memang aktif. Di sepanjang perjalanan, ia banyak mengoceh atau bernyanyi.

Akhirnya bus berangkat keluar dari terminal. Sudah lama aku tidak bepergian jauh dengan bus. Dulu setiap mudik kami pasti naik bus. Tetapi karena abi mengendarai mobil sejak aku kelas 6 SD, kami selalu pergi mudik ke Magelang dengan mobil.

Aku pikir bus akan langsung ke jalan tol. Ternyata bus berbelok kea rah Plaza Jambu Dua untuk mengangkut penumpang. Ketika aku melihat sekeliling bus. Ternyata bus memang masih sedikit penumpangnya. Bus pun melanjutkan perjalanan kea rah Cibinong. Aku tidak ingat lagi setelahnya karena aku telah tertidur.

Aku bangun di daerah Depok. Mungkin karena aku hanya melihat sekilas. Maryam dan Muhammad masih bangun. Marym sedang bernyanyi lagu yang mungkin itu adalah salah satu lagu dari film Upin dan Ipin. Tidak terlalu jelas karena Maryam belum terlalu jelas bicaranya. Muhammad sedang berdiri di atas kursi sambil melihat ke luar jendela kaca. Kemudian aku tertidur lagi.

Waktu kecil, aku hampir sedikit sekali tidur ketika di bus. Karena aku sangat tertarik dengan pemandangan jalanan di luar. Mungkin karena aku sudah besar atau sudah bosan dengan pemandangan jalan, aku merasa ngantuk sekali.

Aku terbangun ketika bus telah berhenti di Bekasi. Ketika aku melihat jam, ternyata sekarang jam setengah 6. Kata umi supir dan kenek busnya harus makan di pemberhentian. Ketika aku bangun hidungku terasa tersumbat. Mungkin karena AC bus yang terlalu mengarah ke arahku. Aku menutup tutup AC di atasku. Tetapi hidungku masih tidak enak. Aku meminta izin kepada umi aku akan turun dan membeli tisu. Dan aku turun dari bus. Ternyata tisunya habis. Aku naik lagi. Tetapi hidungku sudah tidak tersumbat lagi. Mungkin aku memang butuh berdiri dan menghirup udara luar.

Kemudian umi menyuruhku turun lagu untuk membeli air mineral. Ketika aku naik ke bus lagi membawa air, ada beberapa pedagang dan pengamen yang bergiliran naik. Ada pedagang buku dan makanan-makanan asin seperti tahu dan kacang. Umi membeli satu buku berjudul Pintar Belajar Sholat & Berdo’a disertai Jus ‘Amma untuk Anak-anak. Umi juga membeli tahu dan kacang. Maryam suka sekali tahu asin. Aku juga suka. Tetapi aku hanya makan dua biji.

Kemudian dua orang pengamen masuk. Aku lebih suka pengamen yang naik ke bus dari pada yang keliling ke rumah-rumah atau naik ke angkot. Mereka biasanya lebih kreatif. Dari segi bicara kepada penumpang dan lagu yang mereka nyanyikan. Aku tertegun saat pengamen itu berkata, “Hati-hati harta anda bisa berpindah tangan”. Kemudian aku memastikan ranselku tertutup rapat.

Kemudian ada satu pengamen lagi. Sambil menunggu bus berjalan lagi, aku membuka hpku dan membuka social media. Aku juga melakukan Chat dengan beberapa temanku. Oh iya, aku juga baru ingat bahwa aku tidak ikut ujian untuk seminggu ke depan.

Kemudian bus berjalan lagi dan aku tertidur lagi. Di bus aku sering terbangun dan tertidur lagi. Hingga sampai jam 7 petang. Aku sudah menjama’ dan mengqoshor Shlat Maghrib dan Sholat Isya’. Bus berhenti di tempat pemberhentian bus. Jadwanya memang berhenti untuk makan. Aku tidak tahu ini di daerah mana. Tetapi di palang besarnya tertulis Tanjung. Yah mungkin kami berada di Tanjung. Walau pun aku tidak tahu itu di mana.

Setelah ke kamar mandi dan makan malam, bus berjalan lagi. Lalu aku tertidur lagi dan terbangun jam 1 pagi. Ketika aku melihat ke jalanan, ternyata kami sudah sampai di Kabupaten Temanggung. Artinya tinggal satu kota lagi. Muhammad masih tidur. AC nya dingin sekali. Aku membiarkan Muhammad tidur di atas pahaku. Lalu aku menyelimuti Muhammad dengan selendang Maryam. Muhammad tidur sambil meringkuk di kursi. Dari Temanggung mulai banyak orang yang turun dari bus.

Karena merasa sebentar lagi sampai, aku tidak ingin tidur lagi. Aku terus melihat ke pemandangan ke luar. Pemandangan Jawa Barat dan Jawa Tengah menurutku agak berbeda. Kalau di Jawa Tengah masih ada nuansa jadulnya. Rasanya seperti pulang mudik.

Akhirnya bus memasuki Magelang sekitar setengah 2. Aku dapat SMS sebelumnya. Katanya, nanti akan dijemput di Terminal Magelang. Aku memberi tahu Umi. Dan kami pun turun dari bus pada jam 2.45 pagi. Mobil Eyang Kakung sudah terparkir di parkiran depan Terminal Magelang. Yang menjemput ternyata Pakde Mono. Kakak laki-laki umi. Dan kami pun berangkat menuju rumah Eyang Kakung di Desa Bintaro. Aku mendengar Pakde Mono berkata bahwa kondisi Yang Ti masih kritis. Aku berdo’a semoga Allah meringankan sakit Yang Ti. Dan kami sampai di rumah. Karena sudah malam sekali, kami berencana akan langsung tidur. Kata Pakde Mono, umi dan Pakde Mono akan menjenguk dan menemani Yang Ti hari ini. Sedangkan aku harus menjaga adik-adikku di rumah.

Selasa, 15 Desember 2015

Di Rumah Eyang Kakung

Sesuai rencana, hari ini aku akan menjaga adik-adikku selama umi pergi. Karenanya umi memperbolehkan kami menonton dan main game selama umi pergi. Aku membawa laptopku. Muhammad senang sekali. karena biasanya kami jarang sekali diperbolehkan main game. Kecuali pada hari libur.

Aku lupa umi berangkat jam berapa. Tetapi kira-kira sekitar jam 7 pagi. Maryam sudah menunjukkan tanda-tanda akan menangis. Karenanya aku disuruh pergi ke belakang rumah dan melihat Enthog. Di belakang rumah Eyang Kakung memang ada banyak Enthog dan Ayam milik adiknya Eyang Kakung. Maryam tenang melihatnya. Ia tidak jadi menangis.

Aku kemudian menyuapi Muhammad dan Maryam dengan lauk Naget Ayam. Maryam suka sekali menggado naget.

Hari ini benar-benar menjadi seperti hari malas saja. Aku dan adik-adikku hanya menonton film dan bermain game. Eyang Kakung sudah berangkat ke rumah sakit sebelum siang. Di rumah hanya ada Mbak Atul, pembantu rumah tangga di rumah Eyang Kakung. Tetapi sepanjang hari Maryam tidak menangis. Tetapi ia juga tidak tidur. Maryam mulai terlihat mengantuk di sore hari. Tetapi ia tidak mau tidur. Aku memandikan Maryam dengan air dingin. Maryam suka mandi dengan air dingin. Ia menolak direbuskan air untuk mandi air hangat. Baiklah kalau itu membuat Maryam nyaman dan tidak menangis.

Aku tertidur sebelum Maghrib. Maryam dan Muhammad sedang menonton film yang lain. Ketika aku bangun umi dan Eyang Kakung sudah pulang. Ternyata ada Tante Nina juga. Tante Nina datang di siang hari. Tante Nina adalah adik perempuan umi. Tante Nina bersama anaknya yang terkecil, yaitu Derryn. Kasihan Tante Nina kecapekan. Sehingga dikerok sampai merah sekali. Besok kami semua akan menjenguk Yang Ti. Kata Eyang Kakung boleh tapi sebentar saja. Kemudian kami akan pulang lagi.

Bersambung

[Fathimah NJL, Kelas 1 SMA, Santriwati Angkatan ke-5 Jenjang SMA, Pesantren Media]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s