Catatan Pelajaran; Etika dalam Menuntut Ilmu

Catatan Pelajaran; Etika dalam Menuntut Ilmu

Sumber : Pelajaran Ta’lim Muta’allim

PASAL SATU  –  Hakikat Ilmu, Fikih, dan Keutamaannya

Menuntut Ilmu hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah. Setiap muslim wajib menuntut ilmu mulai sejak kecil hingga menjelang kematiannya.

“Tholabul ‘ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimin wa muslimatin. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah.” (Hadits)

Ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu usludin dan ilmu fikih. Wajib juga mempelajari ilmu yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari. Misalkan sholat. Mengerjakan sholat hukumnya adalah wajib, maka wajib juga mempelajari ilmu tentang sholat agar tidak salah dan berdosa ketika melaksanakannya.

“Maa laa yatimmu wajib illa bihi fahuwa wajib.”

Seorang muslim diwajibkan mempelajari ilmu yang menghantarkannya menunaikan segala sesuatu yang menjadi kewajibannya.

Ilmu adalah bekal untuk ketakwaan. Dalam menuntut ilmu, setiap pelajar harus memiliki ketakwaan dan tawakkal.

Takwa adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah.

Imam Syafi’i menjelaskan, “Jika tidak bisa dikerjakan semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya.”

 

PASAL DUA  –  Niat untuk Belajar

Segala perbuatan maknanya adalah tergantung niatnya.

“Innamal a’maalu binniyaat. Sesungguhnya segala amalan tergantung niatnya.”

Niat adalah pokok dari semua amalan, termasuk belajar. Belajar harus diiringi dengan adanya niat dari sang pelajar. Tanpa niat yang kuat untuk menuntut ilmu, ilmu tidak akan bisa didapat.

“Lau kaanatil ‘ilmu yudriku bilmunaa maa yabqoo fil bariyyati jaahilun. Seandainya ilmu di dapat dengan khayalan, niscaya tidak ada orang bodoh di dunia ini.”

Rasulullah SAW bersabda :

“Banyak sekali amal-amal yang wujudnya menyerupai amal dunia tetapi sebenarnya merupakan amal akhirat karena bagusnya niat. Dan tidak sedikit amal yang wujudnya seperti amal akhirat kemudian menjadi amal dunia dengan jeleknya niat.”

Setiap amalan akan dinilai berdasarkan niatnya. Ada amalan akhirat yang sebenarnya bagus namun menjadi jelek karena niatnya. Contohnya adalah sedekah tetapi niatnya untuk dilihat orang. Maka amalan itu berubah menjadi amalan yang tidak berguna bahkan merugi karena sifat riya’. Ada juga amalan dunia yang karena bagus niatnya, menjadi amalan yang dapat dinilai pahalanya. Contohnya adalah menyingkirkan duri, atau bahaya di jalanan.

Niat untuk menuntut ilmu:

  • Semata-mata mencari keridhoan Allah SWT
  • Memperoleh pahala di akhirat
  • Menghilangkan kebodohanpada dirinya dan seluruh orang bodoh
  • Menghidupkan dan menegakkan agama Islam.

Dalam menuntut ilmu juga harus ada rasa syukur atas nikmat akal dan sehat. Harus ada rasa syukur karena dengan akal, manusia dapat memahamiilmu yang dipelajarinya. Sehatnya badan juga merupakan hal yang harus disyukuri dalam menuntut ilmu. Karena dengan sehatnya badan, membuat ilmu lebih mudah dicerna oleh akal.

Seorang muslim tidak boleh menuntuk ilmu dengan niat memperoleh materi atau mendapatkan kedudukan. Niatkan menuntut ilmu dengan 4 hal yang tertera di atas tadi. Orang yang berilmu tidal akan sombong ataupun rendah diri. Ia berada di antara keduanya, yaitu Tawadhu.

[Fathimah NJL, Kelas 2 SMA, Pesantren Media]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s