Bahagia Kita yang Rasa

Ini bukan judul lagu. Tapi jawaban tentang komentar-komentar mengenai hidup baruku. Sejak bayi, aku terbiasa berkelana. Aku lahir di Surabaya, bersekolah Taman Kanak-kanan di Magelang, bersekolah di SDIT di Bogor, dan melanjutkan SMP di Pesantren. Dan masa SMA-ku kini, aku kembali terdampar dan menjadi santri lagi. Sesudahnya aku masih memikirkan. Apakah aku akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama atau yang lain. Kita lihat saja nanti.

Sekarang ini aku tinggal di sebuah kamar di asrama putri di tepi sebuah kebun luas. Bentuknya seperti kos-kosan. Aku tinggal bersama teman satu kamarku. Kami sama-sama tengah mencoba pola hidup yang lebih mandiri. Memang tak jauh berbeda dari pola yang sebelumnya. Tapi aku hanya berusaha.

Teman-temanku sering bertanya padaku, “Hidupmu sepertinya lancar-lancar saja, ya. Nggak banyak masalah.”

Aku hanya menjawab, “Yah. Jalanin aja. Aku hanya menampilkan sisi hidupku yang menyenangkan. Ada juga hal yang kusembunyikan. Kalau kita menyembunyikan kesedihan, Allah pasti menutupinya dengan kebahagiaan.”

Umiku bilang, aku ini orang yang multitalenta. Bisa melakukan lebih dari satu keahlian. Bukannya sombong. Tapi justru karena itulah, aku tidak bisa memfokuskan keahlian mana yang harus lebih ditekuni. Aku bisa menghafal Al-Qur’an, memahami Tsaqofah Islam, aku bisa belajar Matematika dan Sains, aku bisa bermain musik, dan apa pun yang bermanfaat dan menyenangkan bagiku. Namun kadang aku merasa, semua itu hanya kulakukan setengah-setengah. Matematika kuanggap sebagai olahraga otak. Agar otakku tidak menjadi tumpul, aku suka mengerjakan soal-soal matematika di waktu senggang. Aku juga suka bermain Sudoku. Semakin tinggi levelnya, semakin gemas aku ingin menyelesaikannya. Namun prestasiku di bidang Matematika pas-pasan. Waktu SD dan SMP dulu, aku sering mengikuti olimpiade-olimpiade Matematika. Aku pernah ikut olimpiade nasional. Namun mentok-mentok hanya masuk sampai final. Aku memang tidak pernah mengkhususkan aku ingin menjadi ahli matematika. Itu hanya untuk olahraga otakku.

Aku juga bisa bermain musik. Aku bermain keyboard, biola, dan gitar. Kalau aku sedang merasa stress atau uring-uringan, aku bisa menghafal bahkan memainkan piano klasik. Padahal aku tidak pernah belajar piano. Di Pesantren Media, kami tidak diajarkan lagu klasik. Kami memainkan lagu-lagu ideologis karya almarhum ayahku Ustadz Umar Abdullah yang berkolaborasi dengan Om Dedy Arief Fasihin.

Kalau Tahfizh adalah kewajiban. Belum sampai setengah Al Qur’an hafalanku. Mungkin aku terlalu santai. Pesan Umiku , yang penting Al Qur’an itu menjiwai hidup kita.

Kembali ke pembahasan tentang bahagia, jawabannya adalah kembali ke hati kita. Aku ingat pesan orang tuaku sejak kecil, bahwa bahagia itu adalah kita bisa menjalankan hidup ini sesuai keridhoan Allah SWT. Soal hidup, sudah ada Allah yang mengatur jalan hidup kita. Tinggal kita berusaha sebaik-baiknya menjalankan aturan Allah. Kalau kita bersyukur atas semua karunia Allah SWT, pasti hidup kita bahagia. Kalaupun kita bête sama keadaan, atau jutek karena suatu hal, yang penting jangan berlebihan. Sesudah masalahnya reda, pasti bahagia lagi.

Bahagia, kita yang rasa. Itu berkaitan dengan kehidupan Keluarga Besarku di Pesantren Media. Ayahku sudah tiada dan ibuku menikah dengan Ustadzku yang sudah berkeluarga. Poligami, itulah yang terjadi. Urusannya pasti heboh kalau soal poligami. Maklum, selama ini poligami dianggap bencana, musibah, malapetaka atau apapun buat ibu-ibu. Buat anak-anak, poligami itu penderitaan. Siapa sih yang pengen punya ayah tiri? Apalagi ibu tiri. Karena ada yang bilang ibu tiri itu lebih kejam daripada ibu kota. Apakah memang begitu? Menurutku tidak. Karena ibu baruku, yaitu istri dari ayah baruku, justru yang memulai ide cerita untuk poligami. Waaah, hebat banget, begitu komentarku sambil menggelengkan kepala.

Jadi tidak aneh, kalau cerita bencana poligami itu nggak pernah aku temui di keluargaku ini. Semuanya baik-baik saja. Aku harap ini yang akan terjadi selamanya. Karena bagiku semua orang tuaku dan guru-guruku semuanya adalah orang yang hebat. Almarhum ayahku orang hebat, Umiku hebat, Ibu baruku juga hebat, ayah baruku, jelas juga orang hebat. Siapa yang paling hebat? Yah, itu hanya Allah yang tahu. Yang terbaik adalah yang paling bertaqwa di hadapan Allah SWT.

Umiku adalah guru yang berkaitan tentang masalah ini di Pesantren. Soal poligami yang bikin heboh ini, ketika aku bertanya kepada Umi, kenapa orang selalu merasa aneh dengan poligami? Kenapa poligami dianggap sebagai masalah? Ia menjawab bahwa sama saja. Pernikahan apapun bisa jadi malapetaka kalau kita menjalankannya tidak sesuai hukum syara’. Semua perbuatan pasti ada aturannya. Ikuti saja aturan Allah, pasti ada kemudahan. Dalam sebuah pernikahan, kalau tidak sesuai aturan Allah, baik itu istri satu atau dua atau tiga atau empat, pasti ujungnya malapetaka. Tapi kalau kita ikuti aturan Allah, walaupun awalnya susah dan berat, lama-lama jadi ringan dan menjalankannya juga bahagia. Jadi bahagia itu memang kita yang rasa. Ukuran kita kadang berbeda. Tapi kalau ukurannya Islam, pasti semua bahagia.

Aku berdo’a kepada Allah, agar keluarga besarku ini semakin kuat Islamnya. Sehingga kami sama-sama semakin bahagia. Pastinya bersama Islam. [Fathimah NJL, santriwati kelas 2 jenjang SMA]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s