Satu Hari di Kaki Gunung Halimun

Selasa, 23 Mei 2017

Aku bangun jam 3.30 dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Hari ini kami akan pergi ke Aldepos untuk rihlah dan perpisahan. Aku telah mengepak sebagian barangku semalam. Hanya tinggal alat mandi dan handuk saja.

Kami akan berangkat jam 8.30 nanti. Setelah shubuh ada tahfizh sebentar. Kalau sudah setoran boleh pulang. Sebelum berangkat, aku dan akhwat latihan untuk pentas seni sebentar. Aku selalu gagal di bagian penutup. Itu membuatku geram dan terus mengulanginya.

Aku berangkat bersama akhwat dan Teh Yuni naik grabcar. Aku dudul di bangku belakang dengan ditumpuk gitar. Aku memasang earphone di telinga kiri dan tetap mengobrol bersama yang lain.

Aldepos itu letaknya di Tenjolaya, Ciampea. Perjalanan melalui Ciseeng menuju Ciampea. Mobil kami berkonvoi bersama motor yang dinaiki Imam dan Nufus. Imam dan Nufus terlihat seperti bapak dan anak.

Kami mampir sebentar di Ceria Mart. Kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke Aldepos. Setelah menyimpan barang bawaan, aku dan akhwat turun ke sungai. Aku sekedar ingin merasakan air sungai. Ternyata belum terlalu dingin. Karena rombongan lain belum sampai, kami latihan lagi sebentar. Kemudian bermain lagi.

Kami melewati dan meloncati batu menyeberangi sungai. Zulfa yang pertama kali basah. Hingga di seberang sungai, aku belum basah. Tapi ketika kembali, aku terpeleset dan bajuku basah selutut. Untung hanya di pinggir sungai. Tapi karena terantuk batu, kelingking kananku sakit.

Akhwat mengganti baju dan sholat zhuhur. Baju yang basah dijemur di luar. Tapi aku tidak mengganti baju karena hanya basah sedikit dan sudah lebih kering.

Setelah makan siang, kami pergi ke luar untuk jalan-jalan dan berkeliling melihat sekitar.

Kami berhenti di sebuah tempat makan yang sedang kosong di dekat villa. Oh, iya. Kami menyewa sebuah villa dengan nama Lurah. Kami juga membawa dua tenda untuk dipasang.

Kami berfoto di sekitar villa. Amilah dan Zulfa entah pergi ke mana. Aku, Zuyyina, dan Zadia bersantai dan menikmati suasana sambil mengambil foto-foto. Pemandangannya memang sangat menyejukkan. Rumput hijau, pohon-pohon tinggi, batu-batu besar, dan sungai. Kami berlima bersantai sambil berfoto. Menjelang ashar, barulah kami kembali ke villa.

Amilah dan Zulfa tidur di kamar. Sedangkan Zadia dan Zuyyina membantu menyiapkan makan malam. Aku akhirnya membantu mencuci piring. Setelah ashar, kami bergantian ke kamar mandi untuk mandi. Semudian Teh Yuni mengajak kami untuk naik mobil jalan-jalan ke tempat yang lebih jauh dampai ke masjid di depan lokasi.

Kami pergi menaiki Panther dikendarai Mas Farid. Sebelumnya kami berhenti di suatu tempat yang sepertinya akan dijadikan waduk. Setelah itu barulah kami pergi ke depan. Mas Farid mengendarai Panther dengan lambat agar kami bisa menikmati pemandangan. Ada air terjun buatan kecil, sungai, taman bermain, danau, kebun buah, dan banyak lagi. Aku sangat menyukai pemandangan di gunung.

Akhirnya kami sampai di depan. Teh Yuni dan Zadia pergi ke front office untuk meminjam sesuatu. Aku, Amilah, Zuyyina, Zulfa, Sausan, Muhammad, dan Thariq bermain di sekitar masjid. Halamannya luas, masjidnya megah. Masya Allah.

Kami juga melihat kandang ayam, burung merak, dan monyet entah apa. Di sana juga ada kolam renang. Rencananya aku dan yang lainnya ingin berenang besok pagi.

Ketika adzan maghrib, kami sholat di masjid. Sepertinya kawasan villa ini adalah kawasan santri. Karena aku melihat banyak orang berpakaian khas santri.

Setelah sholat, kami kembali ke villa. Makan malam dan mempersiapkan untuk acara pentas seni dan perpisahan. Kami memasang backdrop yang telah kami buat. Acara dimulai jam 19.30.

Seperti yang sudah dipersiapkan, acara dimulai dengan pembukaan oleh MC Hanan dan Rafi. Walau pun memang seperinya kurang persiapan, tapi sudah bagus. Kemudian pembacaan Al-Qur’an surat Al-Mukminum oleh Imam dan Adam. Kurangnya, micnya bermasalah di sini. Tapi Alhamdulillah tetap bisa dilanjutkan walau pun tanpa mic. Selanjutnya adalah sambutan dari Ustadz Oleh. Setelah sambutan, barulah pentas seni ditampilkan.

Penampilan pertama oleh Muhammad. Ia menampilkan pembacaan cerita berjudul “Setan yang berhasil menggoda”. Lucu memang karena Muhammad masih kelas 1 SD.

Setelah itu penampilan dari Nufus, Hanan, dan Rafi. Mereka membuat tayangan tentang tiga amal. Sepertinya. Aku kurang bisa menangkap maksudnya.

Penampilan selanjutnya adalah Bintang. Ia menampilkan karya desainnya dan menjelaskannya. Sepertinya Bintang menyukai desain. Ia beberapa kali menampilkan karya desainnya.

Penampilan selanjutnya adalah Imam dan Adam. Mereka menampilkan puisi berantai buatan mereka sendiri. Walau pun kondisi micnya kurang mendukung. Tapi lumayan.

Selanjutnya adalah giliran akhwat. Sejak awal acara, aku sudah sangat tegang. Padahal ini hanya acara antar santri saja.

Akhirnya kami maji. Ada sedikit kebingungan dengan letak kami berdiri. Kamudian kami mulai bermain. Aku memulai permainan biolaku dengan baik. Saking tegangnya, aku sama sekali ttidak melihat penonton. Aku hanya berfokus pada permainan gitar Amilah dan biolaku. Aku bahkan tidak sadar adanya kesalahan pada tampilan teman yang lain. Aku hanya berusaha fokus.

Dan akhirnya sampai di bagian tersulit. Bagian penutupan. Waah… Aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Banyak sekali not yang miss. Yah sudahlah. Mau bagaimana lagi. Masa mau diulang?

Penampilan terakhir adalah tayangan film dari kelas 3 SMP. Tayangan berjudul Faded yang editingnya bagus sekali. Menurutku. Mereka semua sudah meningkatkan kemampuan mereka. Usman, Abdullah, Fathur, dan Fadlan.

Acara pentas seni akhirnya berakhir. Acara selanjutnya adalah perpisahan. Para guru memberikan sertifikat kepada kelas 3. Kemudian dilanjutkan dengan kesan dan pesan dari kelas 3. Ternyata mereka memiliki cerita masing-masing yang tidak aku ketahui. Setelah lulus, aku do’akan mereka agar lebih baik dari di sini.

Setelah do’a dan penutupan, acara selanjutnya adalah bakar jagung. Akhwat kesusahan sekali menyalakan api di arang. Akhirnya setelah dibantu Ustadz Ahmad, kami hanya perlu mempertahankan apinya.  Di sinilah peranku adalah mengipasi arang agar apinya tetap menyala. Aku dibantu bergantian oleh Zuyyina dan Amilah. Zulfa yang mempersiapkan jagungnya. Zadia yang mengurusi arang agar tidak habis. Sausan yang membakar dan membalik jagungnya.

Akhurnya jagung-jagung bisa dimakan. Kami makan bersama di dalam villa. Setelah menghabiskan satu buah jagung sampai bersih, akhu membersihkan diri dan bersiap tidur.

[Fathimah NJL, Kelas 2 SMA, Pesantren Media]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s