Naskah; Sebuah Kisah

Aku ingin mengisahkan kepadamu

Kisah tentang seorang gadis

Adakah yang menanyakan? Tentang apa yang terjadi

Ingin aku bertanya, tentang arti kesedihan yang tergambar di wajahnya

 

 

Baru setelahnya kita akan tahu, bahwa ia barulah keluar dari sarang induknya

Baru setelahnya ia mengetahui, bahwa tidaklah seluruh dunia itu sama baiknya

Apa yang baru dihadapinya hanyalah sedikit dari kejamnya sosok manusia

Gadis itu berteriak, “Salahkan saja kalau memang salah

Tapi jangan sekali-kali kau benarkan yang salah”

 

Gadis itu hampir putus asa

Sedikit saja ia melangkah lagi, maka jatuhlah ia

Namun sepertinya iblis telah bertekad menariknya

Maka terbayanglah olehnya di pintu masuknya

 

Hampir saja ia menjatuhkan diri

Namun, ALLAH, Tuhannya, masih menyayanginya

Ia mengirimkan seorang teman di ambang kejatuhan

Teman yang telah ditakdirkan untuk bertemu kembali

Menyalakan kembali semangatnya

Mengajaknya kembali untuk bangkit

Teman yang menyadarkannya untuk kembali melangkah

 

Akhirnya gadis itu menyadari

Bahwa ia tidaklah sendiri

Selalu ada satu yang akan terus mendampinginya

Yang bersama dengannya, menghadapi hambatan

Untuk menggapai impian

 

Abaikan saja orang-orang yang mencela

Kita masih mempunyai mimpi-mimpi yang harus dicapai

Jangan biarkan para pencela menjadi penghambat

Gadis itu, berdua, memulai kembali perjalanannya

Ketika orang-orang mulai mencela, maka ia akan bernyanyi

 

***

 

Sebenarnya ini adalah naskah untuk musikalisasi puisi yang ditampilkan pada malam pentas seni di akhir bulan Oktober 2017. Ada 5 lagu yang yang dinyanyikan di sela-sela puisinya. Puisi dan lagu dimainkan bersama dengan permainan gitar. Fathimah sebagai pembaca kisah, dan Amilah mengiringi dengan gitar.

[Fathimah NJL, Amilah Shalihah Army, Kelas 3 SMA, Pesantren Media]

Advertisements

Skenario ; Born 2 Be Jomblo (Bag 1)

Title : BORN 2 BE JOMBLO

Penulis : Adzimattinur Siregar

 

  1. TERAS RUMAH AZZIE– DAY

(Azzie, Lando, Mama Azzie, Papa Azzie)

 

Seorang perempuan usia SMA berdiri tercengang di ambang pintu rumahnya yang sederhana di sebuah kampung. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki tampan yang tersenyum menatapnya.  Di tangan laki-laki itu ada setangkai bunga mawar merah. Continue reading “Skenario ; Born 2 Be Jomblo (Bag 1)”

Aku ingin Minta Maaf (Bag 2)

“Arg..!” aku berlari. Meninggalkan Ibu dan kedua sahabatku dalam kebingungan.

“Aku benci Ibu!!” aku berteriak. Kubanting pintu rumah. Aku berlari. Tak tahu kemana kakiku akan membawa diriku yang penuh emosi.

Aku menyetop salah satu bus mini yang berhenti di hadapanku. Tak mempedulikan suara ibu yang sedari tadi berteriak memanggilku. Aku mengusap mataku perlahan. Ibu egois.

Bus yang ku tumpangi, terasa berjalan lambat. Kebisingan orang-orang di dalam bus kota ini, tak menghiraukan lamunan kekesalanku kepada Ibu. Aku benar-benar tak mengerti. Continue reading “Aku ingin Minta Maaf (Bag 2)”

Sebuah Jawaban

Aku menenteng tasku ke sebuah ruangan. Dengan perlahan, kuketuk pintu.

Tok! Tok!

Seorang perempuan sekelasku membuka pintu. Ia terkejut mendapatiku berada di depan kelas kelompok belajar sekolah. Ia menatapku dengan tatapan sinis.

“Mau ngapain kamu?” aku menunduk. “Anak bodoh seperti kamu tidak pantas masuk kelas ini.” Kata Sally, teman sekelasku, menutup pintu. Tetap menundukkan kepala, aku membelalakkan mata. Perlahan, aku merasa air mataku jatuh ke pipiku. Aku berjalan lesu meninggalkan ruangan.

Belum jauh dari situ, seseorang memanggilku. Continue reading “Sebuah Jawaban”

Ketika Kuku Tak Berkokok

Di sebuah desa, hiduplah seekor Ayam Jago bernama Kuku. Setiap pagi, ia berkokok untuk membangunkan seisi desa. Karenanya, semua orang di desa bisa bangun pagi untuk bekerja.

Namun, ada beberapa temannya yang tidak suka bila Kuku berkokok. Mereka adalah Kudi si Kuda, Cic si Kelinci, dan Moku si Monyet.

“Huh! Si Kuku itu! Berisik banget pagi-pagi.” Kata Moku suatu hari.

“Iya. Aku kan masih ngantuk.” Kata Cica menambahkan. Kudi ikut mendengus. Continue reading “Ketika Kuku Tak Berkokok”